Minggu, 10 Oktober 2010 pukul 06.00 saya beserta 2org anggota GFCS – Gowess Family Club Surabaya (“Opa” dan “Ipey”) dan keluarga saya akan berangkat gowess (total 6 orang), berhubung sepeda yang kami bawa terbatas yakni hanya 2 unit maka yang lain berada di mobil.
Gowess-pun berangkat menuju monumen kresek yakni monumen keganasan PKI yang berada di desa Kresek yang terletak sekitar 15 km ke timur dari kota Madiun.
Monumen Kresek kami pilih lantaran disini banyak gowesser di sekitar Madiun berkumpul disini dan pemandangan alam sepanjang jalan yang menarik semakin memacu kami untuk bergowess ria menuju monumen tersebut.
Setelah beristirahat sekitar 30 menit dan waktu sudah menunjukkan pk. 07.30 maka perjalanan kami lanjutkan kembali. Sisa jarak yang kami tempuh menuju monumen tersebut sebenarnya cukup pendek yakni cuma 1km lagi hanya saja jarak 1km tersebut memiliki jalan malah makin menanjak hingga nafas terasa “ngos-ngosan” dan kaki kami makin terasa pegal. Sebelumnya memang kami belum pernah menuju monumen tersebut jadi kami juga belum mengetahui kondisi medan jalan seperti apa. Dan memang ternyata jalan menuju monumen tersebut cukup menanjak bagi kami. Karena kelelahan sudah menempuh jarak 14km dengan jalan yang menanjak, sekitar pk. 07.00 kami berhenti sejenak di sebuah warung yang terletak 1km sebelum monumen PKI tersebut dan tepat di pintu masuk desa Kresek.
Akhirnya setelah menempuh sisa waktu 1km tadi dan waktu telah menunjukkan pk.08.00 kami telah sampai di monumen Kresek yakni monumen keganasan PKI.
Monumen Kresek, adalah monumen bersejarah yang merupakan peninggalan dan sebagai saksi atas Peristiwa Madiun. Lokasi peninggalan sejarah dengan luas 2 hektar dan terdiri dari monumen dan relief peninggalan sejarah tentang keganasan PKI pada tahun 1948 di Madiun. Adapun fasilitas wisata yang ada di tempat ini, antara lain, pendopo tempat istirahat, taman tanaman langka dan dilengkapi pula areal parkir.
Didekat monumen ini juga terdapat prasasti batu yang mengukir nama nama prajurit TNI dan pamong desa yang gugur dalam pertempuran melawan PKI di desa kresek maupun karena dibantai oleh PKI. Kol. Marhadi adalah prajurit TNI berpangkat tertinggi yang gugur dalam pertempuran desa kresek, namanya lalu diabadikan menjadi salah satu nama jalan di kota madiun dan didirikan pula patungnya di alun alun kota madiun sebagai bentuk penghormatan.menurut warga setempat area monumen kresek dahulu adalah bekas rumah warga yang dijadikan PKI sebagai ajang pembantaian, warga sekitar dikurung didalam rumah tersebut lalu rumah tersebut tersebut dibakar bersama warga yang ada didalamnya. Di sebelah utara monumen kresek terdapat monumen kecil yang terbuat dari batu kali yang mengukir nama-nama prajurit TNI dan para pamong desa yang dibantai oleh PKI. (Wikipedia)
Setelah menikmati pemandangan dari monumen ini dan waktu sudah menunjukkan pk.08.30 kami memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Di tengah perjalanan atau tepatnya di desa Dungus (sekitar 3km dari monumen Kresek) perut kami mulai keroncongan dan kamipun memutuskan untuk mencari warung untuk sarapan pagi.














Tidak ada komentar:
Posting Komentar